Senin, 12 Januari 2026

JSS dan JSM Bisa Jadi Solusi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia


Pembangunan Jembatan Selat Sunda dan Jembatan Selat Malaka menjadi sorotan publik karena terlalu lama tertunda. Banyak pihak mempertanyakan apakah proyek ini akan membebani rakyat secara finansial atau justru menjadi investasi strategis bagi negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemerintah menegaskan bahwa pembangunan kedua jembatan ini bukanlah langkah untuk memiskinkan masyarakat. Skema pembiayaan yang diterapkan akan mempertimbangkan kemampuan ekonomi rakyat, termasuk penggunaan tarif yang wajar bagi pengguna.

Jembatan Selat Sunda (JSS) dan Jembatan Selat Malaka dirancang sebagai proyek berbayar. Dengan sistem tol atau tarif tertentu, pemerintah memproyeksikan pendapatan yang signifikan untuk kas negara sekaligus menutup biaya operasional dan pemeliharaan jembatan.

Dalam hitungan awal, biaya pembangunan JSS diperkirakan mencapai sekitar Rp 200 triliun. Jumlah ini hampir setara dengan biaya pembangunan Kereta Api Cepat Jakarta–Bandung, salah satu proyek infrastruktur terbesar di Indonesia saat ini.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa skala investasi untuk jembatan selat bukanlah hal yang mustahil bagi pemerintah. Apalagi proyek kereta cepat telah menunjukkan manfaat ekonomi jangka panjang bagi transportasi dan mobilitas masyarakat.

Para ekonom menekankan bahwa proyek jembatan selat akan menjadi sumber pendapatan negara yang stabil. Tarif yang diterapkan untuk pengguna jembatan akan masuk ke kas negara dan dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur lain.

Jika proyek ini dimulai, khususnya bila diinisiasi oleh tokoh politik seperti Prabowo Subianto, pembangunan jembatan akan menjadi legasi berharga bagi bangsa. Proyek ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga simbol kemajuan ekonomi dan teknologi nasional.

Jembatan Selat Sunda dan Selat Malaka juga dianggap sebagai investasi strategis jangka panjang. Keberadaannya akan memperkuat konektivitas antar pulau dan jalur perdagangan, mempercepat arus barang, dan mempermudah mobilitas manusia di Nusantara.
Beberapa pihak khawatir proyek ini akan mematikan bisnis kapal penyeberangan yang selama ini menjadi andalan transportasi antarpulau. Namun pemerintah menegaskan kedua moda transportasi ini bersifat saling komplementer.

Kapal penyeberangan tetap memiliki peran untuk transportasi barang dan penumpang di rute alternatif atau bagi masyarakat yang memilih jalur laut. Jembatan tidak akan menggantikan kapal secara total, melainkan menambah pilihan transportasi.

Manfaat ekonomi jangka panjang dari jembatan selat diperkirakan jauh lebih besar daripada investasi awal. Dengan pengelolaan yang baik, pendapatan dari tarif jembatan akan menutup biaya pembangunan dan menghasilkan surplus bagi negara.

Proyek ini juga berpotensi membuka lapangan kerja baru, baik selama pembangunan maupun dalam tahap operasional. Ribuan pekerja konstruksi, teknisi, dan tenaga pendukung akan terlibat dalam proyek ini selama bertahun-tahun.

Selain itu, jembatan akan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah sekitar. Akses yang lebih cepat antar pulau akan meningkatkan aktivitas perdagangan, pariwisata, dan investasi lokal yang sebelumnya terhambat oleh keterbatasan transportasi.

Teknologi dan desain jembatan juga menjadi perhatian utama. Pembangunan jembatan selat membutuhkan rekayasa teknik tinggi dan pemanfaatan teknologi modern, sehingga menambah kapasitas sumber daya manusia dan pengalaman nasional dalam proyek skala besar.

Keamanan dan keselamatan pengguna menjadi aspek yang tidak kalah penting. Pemerintah berencana menerapkan standar keselamatan internasional untuk memastikan jembatan dapat digunakan secara aman oleh semua lapisan masyarakat.

Jembatan ini juga akan mendukung distribusi logistik nasional. Arus barang akan lebih cepat, biaya transportasi berkurang, dan rantai pasok produk dalam negeri menjadi lebih efisien.

Para ahli menilai, dengan adanya jembatan, Indonesia akan memiliki jalur strategis yang mengurangi ketergantungan pada transportasi laut semata. Hal ini penting untuk menghadapi kondisi darurat atau bencana alam yang bisa mengganggu pelayaran.

Meskipun proyek berskala besar, pemerintah menekankan transparansi dan akuntabilitas. Setiap tahap pembangunan akan diawasi agar biaya sesuai dengan perencanaan dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Dengan perencanaan matang, JSS dan JSM dapat menjadi simbol kemajuan dan kebanggaan bangsa. Infrastruktur ini akan menghubungkan wilayah yang sebelumnya terisolasi dan memperkuat persatuan nasional.

Secara keseluruhan, pembangunan Jembatan Selat Sunda dan Selat Malaka bukan sekadar proyek fisik, tetapi investasi strategis yang menggabungkan ekonomi, teknologi, dan politik. Keberhasilannya akan menjadi tonggak penting dalam sejarah pembangunan Indonesia.

Romeltea Media
Siantar Narumonda Updated at:
Get Free Updates:
*Please click on the confirmation link sent in your Spam folder of Email*

Be the first to reply!

 
back to top