Provinsi Shabwa kembali menjadi sorotan nasional setelah otoritas lokal mengeluarkan pernyataan penting pada Rabu, 24 Desember 2025. Pernyataan ini menegaskan dukungan formal kepada Dewan Transisi Selatan (STC) yang dipimpin Mayor Jenderal Aidrous Qasem Al-Zubaidi, sekaligus mengkritik kegagalan elit politik utara dalam menghadapi Houthi selama satu dekade terakhir.
Gubernur Shabwa, Awad Mohammed bin Al-Wazir, dalam rapat luas yang dipimpin dirinya, menekankan bahwa kudeta Houthi dan dominasi mereka atas institusi negara di utara telah menyebabkan runtuhnya struktur pemerintahan dan hilangnya kemampuan untuk melindungi kedaulatan nasional. Menurut pernyataan tersebut, elite utara yang dimaksud adalah anggota PLC non-selatan, termasuk tokoh-tokoh yang selama ini mendominasi pemerintahan pusat di Sanaa dan gagal meredam pengaruh Houthi.
Pernyataan ini sekaligus mengukuhkan posisi Shabwa sebagai bagian integral dari proyek restorasi Negara Arab Selatan yang digaungkan STC. Otoritas lokal menegaskan bahwa dukungan ini bukan sekadar simbolis, melainkan bagian dari jalur politik yang sah untuk membangun institusi selatan di atas fondasi modern yang adil dan setara.
Langkah ini menjadi sinyal jelas bahwa STC memiliki basis lokal yang kuat di Shabwa, salah satu provinsi strategis timur selatan yang kaya sumber daya, terutama minyak dan gas. Dukungan Shabwa dapat mempermudah STC mengonsolidasikan kekuatan politik dan militer di wilayah timur selatan.
Pernyataan Shabwa juga menekankan bahwa restorasi Negara Arab Selatan bukan tuntutan emosional semata, melainkan hak politik dan sejarah yang ditegakkan oleh rakyat. Hal ini mengindikasikan bahwa STC ingin mengukuhkan legitimasi historis dan politik proyek mereka, sekaligus menegaskan posisi mereka sebagai aktor sah di kancah nasional.
Dalam konteks nasional, kritik terhadap anggota PLC utara menandakan bahwa provinsi-provinsi selatan melihat pemerintah pusat saat ini gagal mengatasi Houthi, dan tidak mampu melindungi wilayah selatan dari intervensi militer maupun tekanan politik utara. Kegagalan ini menjadi justifikasi bagi langkah pre-emptive STC di Hadramaut dan Al-Mahrah.
Sejumlah analis menilai, pernyataan Shabwa juga bertujuan mengonsolidasikan dukungan internal dengan menyerukan semua pemimpin politik, militer, keamanan, serta komponen sosial dan suku untuk bersatu di bawah kepemimpinan STC. Ini menegaskan bahwa provinsi selatan siap menjadi basis kekuatan politik dan militer yang solid bagi STC.
Langkah ini juga menimbulkan pertanyaan: bagaimana posisi PLC jika membuka ruang dialog, termasuk kemungkinan anggota Houthi masuk ke PLC? Dalam skenario tersebut, PLC bisa menjadi forum politik inklusif yang menyerupai model Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dengan anggota de facto dari wilayah yang berbeda, termasuk Houthi.
Jika Houthi bergabung, mereka secara resmi bisa berbicara di forum internasional, termasuk PBB, atas nama Yaman. Hal ini akan mengakhiri paradoks selama ini, di mana pihak yang menguasai ibu kota Sanaa tidak memiliki legitimasi internasional penuh. Namun, partisipasi Houthi dalam PLC akan membutuhkan kesepakatan tentang pembagian kekuasaan dan otoritas, agar tidak memicu konflik internal baru.
Bagi anggota PLC utara, masuknya Houthi bisa dianggap sebagai pengakuan terhadap kegagalan mereka sendiri dalam mengendalikan konflik di utara. Ini akan menimbulkan tekanan politik tambahan, karena legitimasi internasional Houthi meningkat, sementara posisi politik mereka semakin terpinggirkan.
Sementara itu, bagi STC, keterlibatan Houthi dalam PLC bisa menggeser konflik dari medan perang ke meja politik, sekaligus memperkuat klaim mereka terhadap provinsi selatan. Strategi ini memungkinkan STC untuk menegaskan aspirasi kemerdekaan tanpa harus melanjutkan perang terbuka.
Keuntungan lain dari skema ini adalah terciptanya saluran komunikasi permanen antara pihak selatan, utara, dan Houthi. Selama ini, dialog selalu bergantung pada mediasi internasional, namun PLC inklusif akan memungkinkan pembicaraan berlangsung dari dalam struktur politik Yaman sendiri.
Namun, risiko juga tetap tinggi. Jika tidak ada mekanisme jelas mengenai pembagian wewenang, PLC bisa menjadi arena veto permanen, memperlambat pengambilan keputusan dan menimbulkan kecurigaan antaraktor politik.
Secara simbolis, pernyataan Shabwa menegaskan identitas nasional selatan sebagai bagian dari proyek restorasi Negara Arab Selatan. Ini menekankan bahwa perjuangan selatan bukan semata-mata milisi bersenjata, tetapi didukung oleh legitimasi lokal dan aspirasi historis.
Dalam konteks geopolitik, langkah ini juga mengirim sinyal kepada koalisi Arab Saudi-UAE dan aktor regional lain bahwa STC memiliki kendali nyata atas wilayah strategis selatan, sekaligus mampu menjaga keamanan dan stabilitas di provinsi-propinsi penting.
Bagi komunitas internasional, dukungan Shabwa terhadap STC menjadi indikator bahwa legitimasi lokal selatan solid, sehingga setiap upaya diplomasi harus memperhitungkan posisi provinsi-provinsi selatan.
Jika PLC benar-benar membuka dialog dengan memasukkan Houthi, ini bisa menjadi langkah awal rekonsiliasi nasional, meski tidak menyelesaikan semua masalah. Inklusivitas ini akan membantu menahan fragmentasi lebih lanjut dan menstabilkan Yaman secara de facto.
Dalam jangka panjang, PLC inklusif yang melibatkan Houthi dapat menjadi mekanisme koordinasi antaraktor, mirip konsensus elite di negara-negara Teluk. Meski kepentingan berbeda, mereka bisa menyepakati garis merah bersama demi stabilitas nasional.
Namun, seluruh skema ini bergantung pada kesediaan Houthi dan elite utara untuk menyesuaikan kepentingan masing-masing, serta kemampuan STC dan PLC selatan untuk mempertahankan dominasi politik di wilayah mereka.
Pernyataan Shabwa menegaskan bahwa provinsi ini siap menjadi bastion politik dan militer bagi proyek STC, sekaligus mengirim pesan kuat kepada PLC dan elite utara bahwa dukungan selatan untuk proyek restorasi adalah nyata dan terstruktur.
Akhirnya, dinamika ini menunjukkan bahwa Yaman saat ini berada di persimpangan antara konflik terbuka dan rekonsiliasi terbatas. Pernyataan Shabwa bukan sekadar simbol politik, tetapi indikator nyata tentang bagaimana selatan menyiapkan panggung untuk negosiasi masa depan dengan utara dan Houthi.



